Sadda, mappabati Ada, Ada mappabati Gau, Gau mappabati Tau, Tau sipakatau Mappaddupa Nasaba Engkai Siri’ta nennia Pessee ta, Nassibawai Wawang ati mapaccing, lempu, getteng, warani, reso, amaccangeng, tenricau, maradeka nennia assimellereng Makkatenni Masse ri Panngaderengn na Mappasanre ri elo ullena Alla Taala. artinya: Bunyi mewujudkan kata,...Kata mewujudkan Perbuatan,Perbuatan Mewujudkan Manusia,Manusia Memanusiakan Manusia, Membuktikan di Dunia Realiti kerana Kita Memiliki perasaan malu dan teladan ( pengaruh) disertai dengan Kesucian hati, kejujuran, keteguhan, keberanian, kegigihan dan ketekunan, kecerdasan minda,daya saing yang tinggi, kemerdekaan, Berpegang teguh pada adat dan tradisi serta bertawakal kepada Kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa.

Kata Bijak Pak Mario

Selasa, 11 November 2014

RINDU AYAH

Ayah, berakhir sdh kau terjajah rentah
Waktu tlah usai menjerat semangatmu
Dan hari ini hari terindah buatmu
Dan sy tak sempat hadir di saat terakhirmu

Tapi aq bertahan ayah dari jajahan air mata
Saya ikhlas melepas kepergianmu ke alam sana
Ayah, awalx q tak sanggup
Namun kebijaksanaanmu memotivasiq, meski saya lemah ayah

Saat wadahmu hanyak kulit dan tulang pun kau tetap ceria
Beda dengan anakmu ini, tak setegar dirimu

Ayah, rasax baru kemarin kau manja Aq dengan bijakmu
Terlalu cepat ayah bagiku, hendak kau tinggalkan butuhku
Kedewasaanq belum sempurna ayah sesuai gerak isyaratmu

Ayah, gemetar rasax sluruh tubuhq
Senyum ini tak bisa sembunyikan sedihq

Ayah, kau slalu ada meski kau sdh tiada
Aq rindu ayah, rindu pribadi ayah....
Muara Wahau 12 nov 2014

Senin, 03 November 2014

Kasih Sebatas Senja

Dalam ayunan langkah kaki kita bersama
Tlah terjalin sdh jlinan yg manis
Bilakh ternoda suatu salah dan dosa
Q pinta padamu sudilah maafkan daku

Senja pun tak terasa bergulir
Sampai jua di penghujung akhir cerita
Kasih yg baru terbina pupus sdh
Karena takdir cukup sampai di sini

Q tahu cinta kita tiada  kata
tapi hatiq dan hatimu slg memberi isyarat
Keegoaan diri akhiri kisah kita
Inilah kisah cintaq dan cintamu 

Senin, 27 Oktober 2014

Meninggalkan Keduniawian

Meninggalkan keduniawian sering dikira
sebagai sesuatu hal yang diperuntukkan
biksu-biksu, biksuni-biksuni, para yogi,
atau orang-orang istimewa yang tinggal
di dalam gua, tetapi sebenarnya bukan
hanya itu saja pengertiannya.
Meninggalkan keduniawian berarti
meninggalkan aspirasi ego seseorang,
dan jika kita tidak melakukan kegiatan
ini selama bermeditasi, meditasi tidak
akan berkembang.
Ego suka dihibur dan diafirmasi secara
konstan. 

Ketika dibuat untuk hening, dan
tidak melakukan sesuatu apa pun yang
menarik, ego akan menolak secara keras
dan mencoba untuk kabur dari situasi
tersebut dengan cara mencari hal lain
untuk membuat ego tetap ada, seperti
berbicara, membaca, berkhayal, apa pun
untuk membuatnya tetap ada.
Jika kita tidak menghentikan
kecenderungan-kecenderungan ini, maka
meditasi kita tidak akan berhasil.

Meninggalkan keduniawian adalah bagian
dari jalan spiritual mana pun. 

Artinya melepaskan seluruh ide kita mengenai siapa diri kita, atau apa cita-cita kita, atau apa yang ingin kita miliki.

Semua ini merupakan identifikasi ego
yang secara konstan menguatkan
kembali "aku", dan mengarahkan kita
pada arah yang salah.
Apa yang kita kira dimiliki, rumah-"ku",
suami-"ku", istri-"ku" anak-anak-"ku",
sanak saudara-"ku", teman-"ku",
membuat perasaan "aku" semakin
mantap karena ego membutuhkan sistem
pendukung.
Memberikan ego sebuah ilusi kestabilan.
Tiada satu pun orang-orang atau
benda-benda kepemilikan kita bersifat
permanen, semuanya dapat hilang
dengan segera.
Jika kestabilan ini merupakan sesuatu
yang nyata, maka, semakin besar rumah
atau mobil, semakin banyak teman atau
anak, semakin banyak istri, maka
semakin amanlah perasaan seorang
manusia.
Namun, dengan memiliki seluruh orang-
orang ini dan benda-benda ini justru
membawa lebih banyak kekhawatiran dan
masalah. Bayangkan bila kita memiliki
sepuluh istri dan bukannya satu istri.
Lenyapkan pikiran seperti itu! Ini
hanyalah miskonsepsi kita untuk
membuat kita merasa aman.
Konsep-konsep kitalah yang membuat
hal itu terjadi, karena tentu saja kita
tidak dapat memiliki siapa pun. Orang-
orang meninggal pada saat-saat yang
tidak tepat, menikah dengan orang-
orang yang salah, dan pergi tanpa
meninggalkan sebanyak kepergiannya.
Mereka membuat karma mereka sendiri.
Walau demikian, masih saja kita
menganggap mereka milik kita. Begitu
kita mempercayainya, lalu kita
bergantung pada mereka sepanjang
hidup kita. Mereka harus tetap menjadi
"milikku".
Inilah proses identifikasi kita dengan
keluarga kita, pekerjaan kita, dan
benda-benda yang kita miliki.
Bukannya hanya menjadi satu "aku",
kita sekarang telah bertumbuh dan
melekat di dalam sejumlah orang,
pekerjaan, rumah, dan semua yang
berhubungan dengan hal itu. Sehingga
tampak jauh lebih besar.
Bukan berarti ia harus melempar semua
orang keluar dari rumahnya. Tetapi
selama ia bergantung kepada apa yang
orang lain katakan, pikirkan, atau
lakukan, bagaimana mungkin ia
mempraktikkan ajaran demi
kebebasannya sendiri?
Tanpa identifikasi ini, ego akan kembali
ke ukuran normalnya, hanya satu "aku"
dan itu saja. Bukan berarti ego telah
dihilangkan, tetapi ego akan kembali
mampu kita kendalikan.
Satu tubuh, satu pikiran, tanpa memiliki
dan teridentifikasi dengan banyak
orang dan benda-benda lain.
Meninggalkan keduniawian dapat
dilakukan dalam bermacam-macam
bentuk. Bisa berupa disiplin diri seperti
bangun lebih pagi dari biasanya,
meninggalkan kecenderungan kita untuk
menjadi lebih nyaman.
Meninggalkan keduniawian bisa juga
berbentuk tidak selalu makan pada saat
kita ingin makan, tetapi menunggu
hingga muncul rasa lapar yang
sesungguhnya.
Ketika kita tiba pada saat-saat terakhir
kehidupan kita, kita harus melepaskan
segalanya. Kita tidak dapat
membawanya bersama kita, benda-
benda atau orang-orang yang kita sebut
sebagai milik kita, kita bahkan tidak
dapat membawa tubuh yang kita sebut
sebagai milik kita.
Sebaiknya kita juga mempelajari
kematian sebelum ia tiba.
Inilah sebabnya mengapa momen
kematian seringkali merupakan suatu
perjuangan. Beberapa orang meninggal
dengan damai, tetapi banyak yang tidak
karena mereka tidak siap melepaskan
segalanya. Karena sebelumnya mereka
tidak sempat memikirkan tentang
kematian.
Segala sesuatu yang melekat dengan
kita adalah sebuah halangan, sebuah
rintangan.
Artinya menghilangkan sikap
kemelekatan kita terhadap mereka, yang
merupakan penghalang terbesar kita.
Tak berarti kita tidak lagi mencintai
keluarga kita. Sebaliknya, cinta tanpa
kemelekatan adalah jenis cinta yang
tidak memiliki rasa takut di dalamnya
sehingga bersifat murni. Cinta yang
diikuti kemelekatan adalah belenggu.
Cinta jenis ini berisi gelombang-gelom
bang emosi dan biasanya menciptakan
rantai besi yang tak terlihat. Cinta yang
sesungguhnya tanpa kemelekatan,
memberikan tanpa mengharapkan,
berdiri di samping satu sama lain dan tdk bersandar

PERBEDAAN MENUJU KEKEDEWASAAN

Sebanyak suku bangsa & bahasa
didunia...maka sebanyak itu pula kita
akan mengenal nama & istilah yg di
gunakan untuk menandai dan
memudahkan komunikasi di antara
mereka sendiri...tetapi bila mereka
melakukan lintas komunikasi antar
bahasa, maka di perlukan konversi
bahasa untuk bisa menemukan titik
temunya...bila nama & istilah adalah
hanya penanda suatu "ADA" esensi,
maka apakah sang ADA atau esensi itu
menjadi TIDAK ADA ???...lupakanlah
nama maka kita akan lihat sang ADA yg
berupa tanda dan gejala suatu
esensi ...DIA di sebut sebagai massa &
berat jenis dlm Fisika...di sebut RANGE,
SPEC, dll...sedulur 4 ke 5 pancer
memang sungguh ada dlm esensinya,
sebagaimana adanya spectrum warna
cahaya...dan siapakah sesungguhnya
manusia yg kewadahan dg keilmuan
ini ???... Hanya tuhan yg
tahu...sesungguhnya setiap manusia
belajar dari bahasa IBU...karena TIDAK
ADA YG BARU DI BAWAH
MATAHARI...justru dia yg tidak copas
serta tidak kita kenali jenis
copasannya ...sesungguhnya adalah
ELIEN YANG KESASAR dan tidak akan
pernah kita kenali dan fahami jenis
bahasa dan komunikasinya...hihihihi
sepertinya banyak yg ingin jadi ELIEN
KESASAR sok menjadi penemu dan
berbeda...padahal sesungguhnya aneh
and stupid namanya.

Minggu, 12 Oktober 2014

Menunggu

Mungkin aku terlalu besar berharap
Pada cintamu yang sangat-sangat
menyilaukan
Sehingga sedetikpun takkan pernah
aku melupakan
Lagumu , senyummu dan paras
indahmu
Walaupun semua itu hanya seperti
impian
Kecintaanku padamu melebihi batas
Tetapi kau dingin , sedingin salju
alaska
Jangankan untuk menghangatkanmu
Membuatmu tersenyum saja ,
Aku harus mengorbankan semua yang
ku punya
Sungguh sangat melelahkan mencintai
sang bintang,
Selalu membebani rasa dan jiwa
Sepertinya cintamu padaku hanyalah
sekedar kasihan
Karena aku terus menghiba ,
mengharapkanmu
Bukan cinta murni , simpati oleh
ketulusan
Aku sadar , cinta seperti ini..Takkan
mampu bertahan
Dan aku harus mulai
melupakanmu ,dengan segala
keindahanmu
Memang takkan mudah untuk
melakukannya
Tetapi bila terus membebani bathin ,
Dan suatu saat kau meninggalkanku ?
Lebih dari sakit , bahkan untuk
hiduppun ku takkan mampu
Berilah kepastian ! terus berjalan
menuju kebahagiaan
Atau lupakan saja semua cinta , saat
cinta masih di ujung jalan..
Dan aku takkan sanggup untuk
mengucapkannya,,
Menunggumu tuk buat kepastian
Biarlah pahit..biarlah sakit , aku
tetap akan terima..
Karena cinta harus ada kepastian
terus melangkah..atau lupakan saja
cinta...

Muara Wahau 10 oktober 2014

Jumat, 26 September 2014

Kehidupan Semesta

"Dan Dialah yang memulai penciptaan itu, kemudian
Dia mengembalikannya/mengulangi kembali ciptaan
itu, dan mengulangi itu lebih mudah bagi-Nya. Dia
memiliki sifat Yang Mahatinggi di langit dan bumi,
dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana".
(Q.S. Ar-Ruum [30] : 27)
"Katakanlah, "Adakah di antara sekutumu yang dapat
memulai penciptaan, kemudian mengulanginya
kembali?". Katakanlah, "Allah memulai penciptaan,
kemudian Dia mengulanginya (mengembalikannya).
Maka bagaimana kamu dipalingkan (menyembah
selain Allah) ?". (Q.S. Yunus [10] : 34)
"(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti
menggulung lembaran-lembaran kertas.
Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan
pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi.
Janji yang pasti kami tepati; sungguh, Kami akan
melaksanakannya.". (Q.S. Al-Anbiya' [21] : 104)
"Sungguh, Dia mulai menciptakan, dan Dia
mengulangi (kembali)" .
(Q.S. Al Buruuj [85] : 13)
Selama ini, kita sering menganggap bahwa alam
semesta ini hanya satu kali diciptakan Allah,
berkembang, dan hancur di hari kiamat, dan
SELESAI. Lalu disambung kehidupan rohani abadi di
akhirat.
Anggapan ini terlalu linier dan rasanya boleh ditinjau
lagi. Toh, tidak termasuk Rukun Iman yang dilarang
dipikirkan lagi.
Sebagaimana sabda Rosulullah, bahwa ilmu kita
(manusia) hanya setetes air, sedangkan ilmu Allah
seluas tujuh samudra . Artinya kita (manusia) berpikir
sampai mentok pun itu hanya setetes air. Kita
menghayal seaneh apa pun, itu hanya setetes air.
Kalau kita renungkan, terdapat isyarat (petunjuk)
dalam ayat2 di atas bahwa Allah mengulangi
penciptaan APA PUN, tentunya termasuk penciptaan
alam semesta juga. Pernyataan itu diulang dalam
beberapa ayat di Al-Qur'an , selain di atas, juga di
Surat An-Naml (27) ayat 64, Surat Al Ankabuut (29)
ayat 19, Surat Ar-Ruum (30) ayat 11.
Dalam ayat2 itu, Allah menegaskan bahwa Beliau
(Allah) mencipta lalu mengulang mencipta.
Kenapa kita membatasi kekuasaan Allah bahwa
Beliau hanya boleh mencipta alam sekali saja? Allah
mampu mengulanginya sampai jumlah tak terbatas.
Mudah sekali bagi-Nya. Beliau mampu membuat
alam kembar, alam paralel. Beliau Mahakuasa
membuat duplikat sampai bermiliar Bumi beserta
isinya yang sama persis atau pun yang berbeda.
Dalam ilmu pengetahuan, kita mengenal teori
penciptaan alam semesta yang disebut "Big Bang" ,
yang menyatakan bahwa awal segalanya adalah
ledakan besar, lalu mengembang terus-menerus.
Juga ada teori "Big Crunch", bahwa setelah
mengembang luas miliaran tahun, daya kembangnya
habis. Lalu mengkerut lagi menjadi satu titik
singularitas dan musnah.
Kemudian ada teori "Oscillating Universe", bahwa
titik itu akan meledak lagi mengembang cepat
mengulangi kejadian awal dulu. Lalu mengkerut lagi.
Kemudian mengembang lagi.
Teori-teori ini, kok persis seperti firman2 Allah tadi .
Sebetulnya, tanpa menunggu satu kiamat pun. Allah
saat ini sudah menciptakan banyak alam semesta
lain. Masing-masing alam semesta, memiliki
kelahiran dan kiamatnya sendiri2 .
Lalu, bagaimana dengan alam akhirat? Nggak ada
masalah. Setiap kali suatu alam kiamat, pengadilan
berlangsung. Yang saleh dan baik masuk surga,
yang jahat masuk neraka.
Menurut kami, surga dan neraka yang dilihat
Rasulullah saw, waktu Mi'raj sudah diisi dengan
makhluk2 alam semesta lain (sebelum alam semesta
kita), yang sudah kiamat terlebih dulu .
Alam semesta yang diciptakan berikutnya diisi Allah
dengan makhluk baru lagi, dengan syariat baru, dan
nanti ada kiamatnya sendiri. Berulang-ulang pun
bagi Allah sangat mudah.
Seperti yang kita ketahui bahwa Allah SWT tidak
menyukai "mubazir".
Jadi, sangat mubazir kalau Allah menciptakan alam
semesta yang maha luas ini hanya untuk
kepentingan kita (manusia) yang ada di Bumi.
Tentunya tidak demikian.
Konsep Tauhid adalah meyakini hanya Allah SWT
Yang Maha Esa, selain Allah tidak ada yang tunggal,
jadi yang tunggal hanyalah Allah SWT.
Jadi, yang "satu" itu hanya Allah SWT, sedang
lainnya ada banyak, termasuk alam semesta
seyogyanya juga banyak, tidak hanya satu yang kita
diami ini, atau yang kita lihat ini, atau yang kita
pelajari ini.
Bila rekan2 neter mempunyai pendapat atau
pandangan lain, khususnya pendapat/pandangan
yang mendukung artikel ini. Mohon disampaikan
disini, agar kita semua beserta rekan2 neter lainnya
bisa saling berbagi pengetahuan, pendapat, dsb-nya.
Artikel singkat ini untuk meningkatkan keimanan
kita, betapa Allah SWT itu Maha Kuasa (Al Muqtadir,
Malikul Mulk), Maha Tunggal (Al Wahiid), Maha Esa
(Al Ahad), Maha Pencipta (Al Khaliq, Al Baadii),
Maha Pandai (Ar Rasyiid), dsb. Selain itu, artikel ini
juga untuk menambah pengetahuan serta pandangan
kita.
Terima kasih.

Muara Wahau Kutim kaltim 27 sep 2014

Minggu, 31 Maret 2013

ASSIMELLERETTA

Siduppaka' nacabbiruu
Iyami napuada
Sappaako laingngE

Kuberpapasan, ia tersenyum
Tiada lain ia katakan
Carilah yang lain

PEkkona' sappaa laingngE
Engkagaro duwanna
AnrEna matakku

Bagaimana mungkin kucari yang lain
Adakah duanya
Yang memikat mataku

PolEna' palElE winru
Tenre' kutuju mata
Padammu silise'

Kutelah mencari kemana-mana
Namun tiada jua kudapatkan
Yang menyamai dirimu

MabEla mu risompeeri
Apa' ri pauwwangnga'
Balala padammu


Namun jauh kau kudatangi
Sebab telah kudiberitahu
Jarang tandinganmu

Mauwa' sompe' ri Jawa
Sappaa'i senrapammu
Tenre' kulolongeng

Walaupun kumerantau hingga di Jawa
Mencari yang sepadan dirimu
Namun tiada kudapati jua

PolEna' palElE cinna
Sappaa'i sippadammu
Tenre'sa padammu

Kutelah mencoba mengalihkan harapan
Mencari seseorang yang kiranya
menyamaimu
Namun tiada jua yang sama denganmu

SEnge' lalowa' ri mula wenni
kubali sEnge' tokko
Ri giling tinroku

Kenanglah daku diawal malam
Agar dikau kukenang pula
Dikala kumenggeliat dalam tidurku


SEnge'ka simata jarung
Kubali sEnge' tokki'
Sipuppureng lino

Kenanglah daku walau sebesar lubang jarum
Agar dikau kukenang pula
Hingga seumur dunia

KEgo lEwuu mangkalungu
Matto'dang makkalilii'
Uwitao tinro

Dimana gerangan kau berbantal dalam
baringmu
Membujur dalam geliatmu
Dikau kulihat dalam tidurku

Mannippia' ri wenniE
Manessa iko mua
Uwakkang matinro

Kubermimpi di malam hari
Jelas dikaulah jua
Kupangku dalam tidurku

Matinrooku mannippiiku
Iyami kuponippi
Ikomi kuwita

Saat kuterlelap, pastilah kubermimpi
Tiada lain yang hadir dalam mimpiku
Engkaulah yang kulihat

Upappadako cammingngE
Utimpa' baja-baja
Tekkubokorimmu

kau bagaikan cermin bagiku
Kuhadapkan wajahku dipermukaanmu tiap
waktu
Takkan mungkin kumembelakangimu

Sangadi matE watangnga'
Mareppa' bulo-bulo
Kupaja massEnge'

Kecuali andai kumati terpaksa
Pecah bagai buluh
Maka usailah rinduku

Sangadi duai mEnrE'
Matanna tikkaa'EdE
Usala pangolo

Kecuali jika terbitlah dua
Sang matahari
Barulah mungkin aku keliru berpaling

MatEka' ala duwaE
Kutaro ri babuwa
Tenna iko mua

Aku mati andai ada duanya
Kusimpan dalam perutku
pastilah dikau jua

Akkitako ri kEtengngEdE
Alilii alibunna
Atikku ri lalengna

Pandanglah ke bulan diatas sana
Perhatikan lingkaran bulatnya
Hatiku ada didalamnya

Ana' uleng muita
Macoora puppuu benni
Padai nyawaku'

Lihatlah bintang
Berkilauan sepanjang malam
Seperti itulah jiwaku

Akkitako ri saloo'E
Maccolo' baja-baja
Atikku ri lalengna

Pandanglah sungai
Airnya mengalir sepanjang waktu
Seperti itulah hatiku

Maggulilingna' palElE winru
Naikomua utuju
Nawa-nawakku

Dari segala penjuru kumencoba mengalihkan kasih
Namun dikau jua
Yang ada dalam benakku

Dua tellu kerraiko
Inge'mu na matammu
Taro sompolongmu

Ada dua atau tiga hal yang menjadi
kelebihan dirimu
Hidung dan matamu
Serta model sanggulmu

Iyasia minasakku
Alebbongpa malai
Assimellerengta

Tiada lain harapanku
Semoga liang lahadlah yang memisahkan
Cinta kasih kita

PEsona temmaggangkaaku
Iyapa nakkEwiring
Kame'pi linoE

Keyakinanku tak terbatas
Nantilah kiranya berakhir
Jika dunia kiamat adanya

UpomEnasai sia
Silise' kasa renni'
Pawalung tadua

Adalah cita-cita bagiku
Secarik kain kasa
Menjadi kain kafan kita berdua

UpomEnasai sia
Sitonra-tonra jari
LEtE ri Manipi

Adalah cita-cita bagiku
Saling berpegangan tangan
Meniti jembatan akhirat

IkoarE idi' arE
LEtE ri Manipi
Sitajengngi ri majEE'

Andai dikau ataulah daku
Meniti jembatan akhirat
Kita saling menunggu di gerbangnya

Ri majEE'pi mabbiccara
Ri TualenrEng pasi
Tomappasilolongeng

Di alam kuburlah nanti kita saling menyapa
Nantilah lagi di perbatasan negeri akhirat
Kita akan saling bertukar cerita

Tessitajenggi' ri MajEE'
Kuwapi ri Manipii'
Sita baja-baja

Andai kita tak saling menunggu di alam
kubur
Nantilah setelah di negeri akhirat
Kita dipertemukan selamanya

Sangatta/bengalon 01 April 2013

Rezky Restu Sakti

Rezky Restu Sakti
Anakku Buana Atikku, Abbonga bongaki ri pangkaukeng madecengnge, aja'na rilaleng makkijae. Attongeng tongekki ridecengnge aja'na ripangkaukeng masalae Engkaki mancaji tau masagena mabbere makkuatopa mattarima, aja' taperrisiwi asagenangetta. Malappa atuongetta, mapaccing atitta Riyissengngi ri esso wennie, riyisseng toi riyasengnge sifa'' adele'e. Tau iyye missengngi pura mannessani Naisseng Tepu madecengngi sininna sewwa''e iyye purae irencana, makkotopa eganna tepu madeceng sewwa'' iyya de'e lairencana. Sininnaro pura natoro madeceng Puang sewwae Sewwa'' iyye purae irencana de'e nasilennereng, makkotopa sewwa'' de'e narirencana silennereng, sabbarakengngi. Jancinna puangnge tania belle'' Iyya tau madecengnge, manyamengngi, amangngi, nenniya salamai ajokkangenna Sewwa'' elo'e ipaddibola riyanu teppeddingngenatarima akkaleng, papole madecengngi nasibawai tongeng''. Sewwa'' de'e nairita pura mannessa engkai poleakki agi'' purae napparentang puang Allah ta'ala riyalena Amalakki amala biasa'' bawang, ko engkaki masagena napaulle Appuasaki iyyana parellue Paccoba, paccallang, sibawa pammase: iyamanennaro pura nataro madeceng puangnge, sarekkuammengngi engka perubahan atuongeng lino. Engka maneng paggangkanna, namoni riyaseng sipuppureng lino Tafegau'i sewwa'' weddingnge rifigau', tafaddiyolo matoi malemma'e ripahang. Iyya makessingnge riyalemu, iyyanaritu sewwa'' weddingnge mujama Aja' to talliwe' liwe' riatuongetta, adelekki riyaleta, ritau laingnge, riperasaatta nenniya pikiratta, adele tokki ripangkauketta. Aja' tasolangi aleta, aja'to tasolangi tau laingnge. Engkaki rilaleng amaikengnge

Lencana photo Facebook

THANKS TELAH MAU COMMENT DI BLOG SAYA